Minggu, 13 April 2014

Dunia Tiga Dimensi

April 2014, Polda Permata puri Ngalian Semarang..
Dibalik jendela lantai 2..

Aku termangu..
Telah pergi tiga dimensi..
dengan tiap kisah yang mereka bawa sendiri..
Aku semakin sadar tak ada yang abadi..
Dan.. pada jalan kecil mereka berlalu pergi..
     Tak terlalu banyak kalimat terlontar
     Hanya.. di langkah terakhir mereka tampak tegar..
     Mungkin itu hanya dimensi terluar..
     Atau wujud negasi di ruang bawah sadar..

Kawan..
Persahabatan dan persaudaraan itu tak butuh banyak percakapan..
karena percakapan panjang akan merusak keheningan..
Dan tiap keheningan adalah bahasa nyata percakapan ..
Sebuah luapan amarah simbol pemberontakan..
Namun..  perpisahan adalah kenyataan..
Dimensi pertama mengajarkan arti persahabatan..
Dimensi kedua menunjukan arti kehidupan..
Dimensi ketiga menunjukkan sebuah kenyataan..


April 2014
Lantai 2 lengang, sepi, hanya robot-robot kecil tertata rapi..


Dedicated to:
Tiga Dimensi

Thanks and regards,
Nunung M


Jumat, 11 April 2014

Kisah AMPLOP di Pemilu 9 April 2014

Masih tentang Pemilu.. dengan tema yang usang "AMPLOP"
 08 April 2014
A  : "kulo nuwun.. lek yon,, jo lali nomor 3.. partai xxx..."
B  : "Ah yo mesti.. "
Keduanya melakukan salam tempel.. lalu berlalu begitu saja si A melanjutkan tongkat estafet serangan malamnya.

B  : "Lumayan.. keno ngge tuku sate.."
C  : "yah.. mung semono olehmu?? aku ki lho wes oleh amplop 3, keren men"

09 April 2014, TPS setempat..
D  : "Yu,, jo lali nomor 4 yo.. warna abu-abu.."
E  : "Oh nggeh.. matursuwun.."

Kawan.. kata siapa money politik dilarang.. kalau emang dilarang.. nyatanya masih ada saja amplop berkeliaran disaat malam,, di hari-H, bahkan di gerbang TPS. Aturan ada untuk dilanggar. Dan money politik sudah mengoyot (berakar) di seluruh pelosok negeri ini.
Yah.. ini adalah kampung, bukan kota berperadaban. Yang mengenyam pendidikan tinggi pun masih sedikit. Ini bukan masalah idealisme. Kehadiran idealisme di kampung hampir dinyatakan 0 % dengan tingkat kepastian 100%. Ini tentang pesta rakyat.
Tidak hanya pemilu legislatif, pemilihan kepala desa pun demikian. Dipastikan ada amplop mampir ke rumah. Yang salah siapa? tak usah pertanyakan itu.. itu seperti perti pertanyaan Telur duluan atau ayam duluan yang ada terlebih dahulu? Hayooh to.. mubeng rak?
Alur :
Caleg / peserta pemilu membagikan amplop kepada warga.
Ada berbagai macam karekter warga. Entah di pedesaan maupaun warga kota. Ada yang idealis ada yang oportunis.
Di kampung, setiap amplop adalah sangat berarti. Bukan hanya dikampung. Amplop cuma-cuma itu dalam waktu sekejab berubah menjadi multifungsi.
1. Bagi Ibu-ibu : Bisa buat beli kebutuhan pokok seperti beras, sembako, isi ulang tabung gas,, dan tetek bengek kebutuhan dapur.
2. Bagi ABG   : Bisa buat beli pulsa, BBMan, smsan, telpon2an, dan lain-lain kebutuhan ABG.
3. Bagi Bapak-bapak : Bisa buat beli bensin, atau bahkan jajan.
 Itu semua adalah kondisi simple dan praktis. Caleg berpolitik dengan uang.. rakyat pun berpolitik dengan pemberian uang itu.
Bahkan ada istilah : "Tak terima amplopnya.. tapi pilihan suka-suka gua"
Itulah realita negeri kita.. Indonesia.. dilihat dari sisi lain yang "Kotor".
Ini adalah fenomena ketika di tanggal 09 April itu penjual bakso, mie ayam, sate laris manis dan banyak yang sudah kukut (tutup lebih awal) dari biasanya. Ini adalah rejeki, pesta rakyat. Hampir semuanya rata. Dan ini adalah berkah tersendiri bagi para pedagang makanan dan penjual AMPLOP.

Regards,
Nunung Musliawati, S. Pd